Minggu, 25 Agustus 2013

Menanam Benih Kebaikan

             
                                                   Oleh : Ust. KH. Syamsul Hadi Abdan


              Siapa yang menanam kebaikan, maka ia akan mendapat balasan kebaikan yang berlipat. Begitulah kesimpulan dari ayat diatas. Trimurti memulai menanam “benih” kebaikan dengan mengelola tanah warisan peninggalan orang tua. Mereka menjadikan tanah warisan itu sebagai tempat untuk mengajar anak-anak tentang Islam. “Benih” tersebut kini tumbuh sangat subur dan telah menghasilkan “biji-biji” yang berkualitas tinggi.

              Allah telah melapangkan kepada kita medan untuk menanam benih-benih kebaikan. Berjuang di pondok ini, berjuang dengan harta, fikiran dan tenaga bahkan nyawa adalah benih-benih yang nantinya akan tumbuh ribuan biji-biji kebaikan. Maka, berjuanglah dengan sepenuh hati.

             Benih yang baik, tentunya akan tumbuh dengan subur jika si empunya menjaga dan mengelolanya dengan penuh perhatian. Gontor, selama 87 tahun mendidik santri-santrinya dengan selalu melakukan evaluasi tiap harinya. Gontor akan terus melakukan pengembangan yang sejalan dengan nilai, jiwa dan filsafatnya. Gontor tidak pernah tidak meningkatkan kualitas. Gontor tidak pernah tidak memikirkan pendidikan santri-santri.

            Gontor menjalani 10 windu umurnya dengan suka dukanya, menghadapi segala hambatan dan halangannya. Dengan segala kekurangannya, Gontor akan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dengan terus berusaha, maka Allah akan menuntun ke jalan keluar dari setiap rintangan.

           Gontor dengan 20 cabangnya ini adalah amanat besar dari Allah. Amanat yang nantinya akan diminta pertanggungjawabannya. Jalankanlah amanat ini dengan sebaik mungkin, Lillah.

Pondok Bukan Tempat Rehabilitasi

            Pondok Pesantren sering mendapat image sebagai tempat rehabilitasi. Jadi, Pondok pesantren itu merupakan tempat para anak yang nakal- nakal yang dengan dimasukkannya anak tersebut dipondok pesantren tersebut maka anak tersebut berubah menjadi anak yang baik dan taat.

             Santri yang datang adalah para pencari ilmu, yang datang untuk meminta ilmu kepada kyai. Bukan bekas kriminal, orang-orang buangan masyarakat.

            Bagaimanapun pondok mendidik, tergantung pada santri yang masuk. Segala yang dididik oleh pondok mengarah kepada kebaikan dan perbaikan. Kalaulah pada awalnya sudah baik, maka hasilnya tentunya baik. Sebaliknya, pada awalnya kurang baik, bisa jadi baik, atau malah lebih buruk dari awalnya.

            Maka hendaknya niat yang benar, perlu ditanamkan di hati tiap-tiap santri yang akan masuk pondok. Ibadah Thalabu-l-ilmi, itulah yang seharusnya menjadi tujuan para santri.

Rabu, 31 Juli 2013

MUHASABAH DIRI

         "Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan- angan terhadap Allah SWT". (HR. Imam Tarmidzi)


          MUHASABAH. Kata-kata ini pasti sudah tidak asing lagi ditelinga kita, biasanya kita sering mendengar seorang pemuka atau tokoh agama sebelum dia memanjatkan do'a dia berkata "..... sebelum kita memanjatkan do'a marilah kita bermuhasabah diri sejenak ......". Tapi apa sebenarnya makna dari muhasabah itu sendiri dan apa tujuannya??? Kebanyakan dari kita menafsirkan bahwa muhasabah itu sendiri adalah mengoreksi/ introspeksi diri atau mengingat serta menyesali kesalahan- kesalahan dan dosa- dosa yang telah kita perbuat.

            Dalam bahasa Arab, kata muhasabah adalah bentuk jamak dari kata muhasaba yang berasal dari kata hisab yang artinya perhitungan atau hasaba yang artinya menghitung. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata muhasabah diartikan sebagai introspeksi. Sedangkan kata introspeksi diartikan sebagai peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dsb) diri sendiri.

          Pada dasarnya bermuhasabah itu sendiri tidak hanya mengingat dan menyesali semua kesalahan dan dosa yang telah diperbuat, tetapi juga mengingat dan mensyukuri segala nikmat dan kebaikan apa yang telah kita perbuat guna untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan kita. Jadi, MUHASABAH itu tidak hanya mengingat dan berintrospeksi diri dari segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat tapi juga mengingat kebaikan apa yang telah kita perbuat guna memacu keinginan untuk melakukan lebih banyak kebaikan. Jadi dengan kata lain muhasabah itu merupakan alat untuk menguji kesadaran.

           MUHASABAH adalah Pemeriksaan bathin dengan jujur dan seksama dengan tujuan untuk lebih mengenal diri sendiri baik itu mengenai kekuatan maupun kelemahan yang datang dari dalam diri sendiri maupun yang datang dari luar.

          Dengan bermuhasabah inilah seseorang mampu mengetahui siapa dirinya sebenarnya, serta apa potensi yang ada dalam dirinya yang secara langsung akan berdampak pada prilaku, sikap dan ucapan. Karena prilaku, sikap dan ucapan seseorang itu diukur berdasarkan potensi dirinya sendiri.

           Karena muhasabah adalah alat untuk mengetahui dan mengenal diri sendiri serta potensi diri, maka inilah(muhasabah) yang harus kita lakukan untuk mengetahui sejauh mana keimana kita, alangkah lebih baik apabila kita mengukur/ menghitung kadar keimanan kita sendiri dulu sebelum Allah SWT menghisab iman kita.

Minggu, 07 Juli 2013

perbedaan

bingung.....

setiap orang lain sholat d masjid ga pake kopiah/ peci, bahkan pakaiannya compang camping.... ga ada yang protes.

tapi, pada saat ku sholat di masjid karena blum sempat pulang, trus ga make peci, semua jadi GEMPAR.... membahana.......???

...

Ya Allah........
bagaimana ini.....
ku telah berharap banyak...sehingga ku tinggalkan apa yng ku punya...
namun ternyata.....
semua adalah tipuan muslihat....

apa yang harus ku perbuat sekarang???

                                                       22 March 2013

Tajdidu- n niah

sekarang mulai untuk tajdidu-n niah...lagi.
kapok... habis ketipu...
ini merupakan pengalaman dan pengamalan pertama yang sangat berharga.
memang benar kata pribahasa....
pengalaman merupakan guru yang terbaik yang paling berharga.